Bagaimana Awal Mula Pepatah Ada Dan Lestari Dalam Keseharian

Bandung 04 Maret 2019 – “Bagai pungguk merindukan bulan, ” yang artinya mengharapakan sesuatu yang mustahil untuk dicapai, adalah salah satu pepatah atau peribahasa yang mungkin sudah sering kita dengar dalam keseharian.

Pepatah atau peribahasa adalah salah satu kekayaan sastra, penciptanya sendiri tidak diketahui. Pepatah atau peribahasa haruslah dijunjung sebagai hasil kesusastraan rakyat yang tidak mementingkan nama penulis atau penciptanya melainkan, diterima sebagai hasil kolektif masyarakat tersebut.

Peribahasa dalam bahasa Indonesia merupakan wujud kekayaan masyarakatnya. Peribahasa dalam bahasa Indonesia telah ada, tumbuh, dan lestari dalam masyarakat tutur bahasa Indonesia maupun bahasa daerah lainnya. Biasanya, para orang tua yang bijak menggunakannya untuk menyindir, mengajarkan, atau menasehati orang-orang. Dengan harapan, orang-orang dapat menyadari kesalahannya dan dapat hidup lebih bijak lagi.

Ungkapan peribahasa terkandung keunggulan pemikiran yang terhasil dari pengalaman hidup dan ketajaman pemerhatian masyarakat terhadap alam sekitarnya. Beberapa sebab terciptanya peribahasa diakrenakan :

1.      Perbandingan suatu peristiwa dengan cerita yang masyhur.

2.      Hasil kiasan tentang benda-benda dan peristiwa-peristiwa biasa yang berlaku dalam kehidupan sehari -hari.

3.      Terdapat peribahasa yang terlahir hasil dari kepercayaan masyarakat

4.      Berasal dari bahasa kiasan yang digunakan pada suatu tempat atau masa tertentu dan terkenal kepada umum.

5.      Peribahasa juga berasal daripada cerita-cerita masyhur, kejadian-kejadian luar biasa yang dijadikan perbandingan.

6.      Peribahasa timbul hasil pemerhatian orang dahulu terhadap benda-benda yang ada dalam kehidupan mereka.

7.      Peribahasa timbul akibat kepercayaan terhadap sesuatu kuasa yang luar biasa atau pertuturan-pertuturan biasa dalam kehidupan seharian.

Sedangkan pepatah menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah peribahasa yang mengandung nasihat atau ajaran dari orang tua. Pepatah biasanya digunakan untuk mematahkan argumen lawan bicara. Berikut contoh peribahasa dalam bahasa Indonesia :

  1. Genggam bara api biar menjadi arang : lakukan sesuatu dengan dengan kesabaran agar mendapatkan hasil yang maksimal.
  2. Air pun ada pasang surutnya : kehidupan senantiasa berubah.
  3. Asam di gunung, garam di laut, bertemu di belanga : pria dan wanita bila sudah berjodoh pasti akan bertemu meski jaraknya berjauhan.
  4. Baik mata di rantau orang, jangan sampai berbuat salah : saat berada di perantauan, jagalah selalu menjaga sikap dan perilaku dengan baik.
  5. Kini tanggungkanlah badan, hati, dan mata punya ulah : diri sendirilah yang harus mempertanggungjawabkan semua yang telah diperbuat.
  6. Buat baik berpada-pada, buat salah jangan sekali : jangan berbuat baik terlalu berlebihan, tetapi jangan pula berbuat salah.
  7. Yang baik-baik dipegang mati, yang buruk-buruk dibuang jauh : sikap baik dipertahankan, sikap buruk ditinggalkan.
  8. Berbaik-baik sesama umat, berpatut-patut sesama makhluk : setiap manusia janganlah saling menyombongkan diri, karena dihadapan Tuhan semuanya sama saja.
  9. Dibalik balik, ditelungkup ditelentang : sebuah keputusan yang harus dipertimbangkan dengan matang.
  10. Bangkai gajah, bolehkah ditudung nyiru? : kejahatan besar tidak mungkin dapat ditutup-tutupi.
  11. Batang kayu di hutan tak sama tinggi, sedangkan kayu di rimba bertinggi rendah : nasib setiap orang tidaklah selalu sama.
  12. Sungguhpun batang merdeka, ingat pucuk akan terhempas : janganlah kita terlena karena kesenangan sesaat, tetapi kita juga harus waspada akan bahaya yang bisa datang kapan saja.
  13. Sepandai-pandainya membungkus, yang busuk akan tercium juga : meski disimpan serapat apapun, sesuatu yang tidak baik pasti terungkap juga pada akhirnya.
  14. Bayang-bayang sepanjang badan : cita-cita dan keinginan hendaknya haus sesuai dengan kemampuan diri.
  15. Seberat-berat badan, namun untung dilupakan jangan : seberat apapun cobaan yang dialami, janganlah cepat menyerah, karena selalu ada hikmah dibaliknya.
  16. Belakang parang pun jika diasah akan tajam juga : orang bodoh, asal mau belajar pasti akan menjadi pintar juga.
  17. Sehari selelmbar benang, lama-lama jadilah selembar kain : suatu pekerjaan yang dikerjakan dengan tekun dan sabar, akan memberi hasil yang memuaskan.
  18. Seperti menegakkan benang basah : suatu pekerjaan yang mustahil pasti dapat dikerjakan juga.
  19. Benih yang baikbtak memilih tanah : orang yang memang bersifat baik, akan tetap baik di manapun ia berada.
  20. Berani menjual berani membeli : berani berbuat harus berani bertanggung jawab.
  21. Putus benang dapat disambung, putus cinta apalah daya : perasaan sedih karena asmara biasanya akan sulit disembuhkan.
  22. Benang jangan terputus, tepung jangan terserak : menyelesaikan suatu persoalan hendaknya dilakukan dengan penuh perhitungan dan kebijaksanaan.
  23. Menarik parang dengan berani, menarik kerja dengan usaha : jika ingin berhasil dalam bekerja, lakukanlah dengan sabar dan sepenuh hati.
  24. Kalau lebih beri memberi, kalau kurang tambah menambah : hidup itu harus saling tolong menolong.
  25. Seberat-berat mata memandang, berat jua bahu memikul : seberat apapun penderitaan bagi orang yang melihatnya, tetap lebih berat bagi yang sedang mengalaminya.

Pepatah mempunyai kemiripan dengan bidal atau pameo. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, peribahasa diartikan sebagai kelompok kata yang tetap susunannya berisi kiasan maksud tertentu. Bidal, ungkapan, perumpamaan adalah jenis-jenis dari peribahasa. Bidal merupakan peribahasa jenis yang lugas, berirama, dan berima. Ungkapan adalah gabungan kata yang mempunyai makna konotatif atau makna kiasan. Perumamaan adalah peribahasa yang biasanya diawali dengan kata bak, bagai, atau umpama. Berrikut contohnya :

Bidal

·  Bagai kerakap di atas batu, hidup segan mati tak mau.

·  Ada budi ada talas, ada budi ada balas.

·  Ikan sepat ikan gabus, makin cepat makin bagus.

·  Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlewati.

·  Lulus tangan dilakukan, lulus kaki dilangkahkan.

·  Kalau puntung masih berapi, janganlah dihembus-hembus juga.

·  Di dalam manis ada pahitnya, di dalam manis ada pahitnya.

·  Biar bersimpuh peluh di muka, jangan tersingkap kain basahan

·  Dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu.

·  Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi.

 

Ungkapan

 

  • Airmata buaya: berpura-pura sedih untuk mendapat belas kasihan.
  • Bermuka masam: seseorang yang wajahnya tidak ceria.
  • Membabi buta: bertindak tanpa perhitungan.
  • Mengadu domba: menghasut orang agar terjadi perselisihan.
  • Mengadu nasib: berusaha memperbaiki nasib dengan bekerja.
  • Bercermin bangkai: orang yang merasa hidup dalam kehinaan.
  • Berani lalat: hanya berani bertindak di belakang.
  • Ketahuan belangnya: ketahuan sifat buruknya.
  • Jembatan emas: usaha untuk kehidupan yang lebih baik.
  • Sepahit empedu: penderitaan yang sangat berat.

Perumpamaan

  • Bagai enau dalam belukar melepaskan pucuk masing-masing: dua orang yang sama-sama keras kepala dan sulit bermusyawarah.
  • Bagaikan tanduk bersendi gading: pasangan yang sangat serasi.
  • Bagai anjing menyalak di ekor gajah: perkataan orang kecil tidak akan ada artinya bagi orang yang memiliki kekuasaan.
  • Bagai denai gajah lalu: situasi yang sedang porak poranda.
  • Bagaikan dedalu api hinggap ke pohon kayu, hingga ke batang batang mati, hingga ke ranting ranting patah: orang jahat jika bertemu dengan orang baik-baik pasti akan berusaha untuk mempengaruhi orang baik-baik.
  • Umpama bilah terselat pada dinding, dapat juga diambil untuk cungkil gigi: suatu barang pasti ada manfaatnya.
  • Bagai beliung dengan asahan; seperti pertemanan yang sangat akrab dan tidak dapat dipisahkan.
  • Bagai belut diregang: sindiran untuk tubuh yang sangat kurus.
  • Besar bagai diambal-ambal, tinggi bagai dianjung-anjung: mengenai sesuatu yang berkembang dengan sangat pesat.
  • Bagai buah masak ranum, dihinggut perdu luruh sendiri: perihal seseorang yang telah berusia tua, akan mudah sakit jika harus bekerja keras.